MODEL INTEGRASI INTERKONEKSI

0 komentar



Terdapat 3 model integrasi interkoneksi, diantaranya :

1. Model Informatif


Model informatif adalah suatu disiplin ilmu memberikan informasi kepada disiplin ilmu yang lain. Contohnya : Terdapat dalam Q.S. Yunus ayat 5 yakni Ilmu islam (Al-Quran) memberikan informasi kepada ilmu sains dan teknologi bahwa matahari memancarkan cahaya sedangkan bulan memantulkan cahaya.


LANDASAN INTEGRASI INTERKONEKSI

0 komentar




1. Landasan Normatif - Teologis


Cara memahami sesuatu dengan menggunakan ajaran yang diyakini berasal dari Tuhan. Kebenaran Normatif-Teologis bersifat mutlak.
Dalam Al-Quran dan As-Sunnah tidak membedakan antara ilmu-ilmu agama (islam) dan  ilmu-ilmu umum (sains-teknologi dan sosial-humaniora).

PENGERTIAN INTEGRASI INTERKONEKSI

0 komentar


Sentral Keilmuan Integrasi-Interkoneksi


Pengertian Integrasi-Interkoneksi

Integrasi-interkoneksi merupakan upaya mempertemukan antara ilmu-ilmu agama (islam) dan ilmu-ilmu umum (sains-teknologi dan sosial-humaniora).
(Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga,2004).

Implementasi Integrasi Interkoneksi

Ilmu-ilmu agama (islam) dipertemukan dengan ilmu-ilmu sains-teknologi, atau ilmu-ilmu agama (islam) dipertemukan dengan ilmu-ilmu sosial-humaniora, atau ilmu-ilmu sains-teknologi dipertemukan denagan ilmu-ilmu sosial humaniora.
Tetapi, yang terbaik adalah mempertemukan ketiga-tiganya (ilmu-ilmu agama (islam), ilmu-ilmu sains-teknologi, dan ilmu-ilmu sosial-humaniora). Interaksi antara ketiga disiplin ilmu tersebut akan memperkuat satu sama lain, sehingga bangunan keilmuan masing-masing akan semakin kokoh.
Upaya mempertemukan ketiga disiplin ilmu tersebut diperkuat dengan disiplin ilmu filsafat.
Filsafat (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) digunakan untuk mempertemukan ketiga disiplin ilmu tersebut.

PENDEKATAN PEMADUAN ISLAM DAN SAINS

0 komentar


Pendekatan pemaduan islam sains sering menuai banyak konflik baik dari segi argumen ataupun pertentangan. untuk itu ada beberapa tokoh yang berpendapat agar memadukan islam dan sains.

1. Pendekatan "Sains Islam"

Tokoh : Sayyed Hossein Nasr, Ziauddin Sardar, Maurice Bucaille

Gagasannya :

a. Perlunya etika  islam untuk mengawasi sains, Memang benar, diperlukan etika dalam membangun dan memadukan antara islam dan sains dan diharapkan tidak hanya padu namun disertai etika yang baik.
b. Perlunya landasan epistemologi islami untuk suatu sistem sains ("sains islam"), maksudnya disini landasan epistemologi yang mencakup 5 dasar pendekatan epistemologi yakni :
  • Dasar 1
Islam menjelaskan bahwa untuk mengenal alam semesta dan hakikat benda terdapat tiga cara, ketiga cara tersebut adalah:
Indera: Yang paling penting di antara mereka adalah pendengaran dan penglihatan; Akal serta pemikiran: Dalam ruang lingkup yang terbatas dan sesuai dengan landasan-landasan serta dasar-dasarnya yang khusus, akal dapat menyingkap hakikat dengan pasti dan yakin; Wahyu: Dengan perantara manusia pilihan  dan memiliki kedudukan yang tinggi dapat menjembatani hubungan manusia dengan alam gaib.
Dua cara yang pertama merupakan hal yang umum yang mana semua manusia dapat mengenal alam semesta melalui keduanya, begitu juga dua cara tersebut dapat membantu manusia dalam memahami syariat. Adapun cara yang ketiga hanya orang-orang khusus yang mendapatkan inayah Ilahi, dan orang-orang tersebut adalah para nabi Allah Swt.
Adapun penggunaan indera hanya untuk hal-hal yang dapat di persepsi dan nampak saja, begitu juga akal dapat kita aplikasikan pada permasalahan yang sifatnya terbatas dan memiliki landasan untuk itu, akan tetapi aplikasi wahyu lebih luas dan mencakup seluruh permasalahan, lebih umum dan luas dari permasalahan akidah dan hukum. Al-Qur'an menjelaskan permasalahan ini dalam beberapa ayatnya, Qs. An-Nahl ayat 78:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.



PENCIPTAAN ALAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM

0 komentar

http://2.bp.blogspot.com/-za2YLoLKEk4/UBPx2nPnkdI/AAAAAAAACqQ/RlS38CYYBos/s1600/alam-semesta.jpg


BAB I
PENDAHULUAN

              A. Latar Belakang Masalah
Bumi yang kita pijak ini hanya sekelumit kisah perjalanan manusia dalam menghadapi cobaan dan berlomba-lomba mencari tujuan untuk memperoleh ridho Allah SWT. Begitupun alam semesta atau jagad raya ini semua telah tertuang di dalam Al-Qur’an yang notabene adalah sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Didalam Al-Qur’an telah disebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, termasuk penciptaan manusia sebagai makhluk sempurna yang didorong hasrat ingin tahu nya serta dipacu akal nya untuk mencari tahu dan menyelidiki segala sesuatu yang ada disekitarnya termasuk keingintahuannya akan alam semesta ini.
Allah SWT menciptakan alam semesta dan segala isinya untuk manusia agar mempercayai bukti kebesaran-Nya bahwa alam semesta ini memang ada yang menciptakan dan manusia wajib memanfaatkannya sebaik mungkin tanpa merusaknya. Keingintahuan manusia tentang penciptaan alam semesta tidak hanya membaca ayat-ayat Al-Qur’an saja, akan tetapi juga melakukan perintah Allah sehingga dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran Al-Qur’an. 
 B. Rumusan Masalah


Untuk memperkaya wawasan dan pemahaman pembaca tentang Penciptaan Alam Semesta dalam Perspektif Islam, maka dapat disimpulkan beberapa pokok bahasan antara lain :

1.      Pengertian Alam Semesta.
2.      Teori Penciptaan Alam.
3.      Karakteristik, Mekanisme dan Tujuan Penciptaan Alam.

4.      Pandangan Penciptaan Alam dalam Perspektif Islam dan Sains Modern.

5.      Hubungan Manusia dengan Alam Semesta. 

C. Tujuan

1.      Untuk dapat mengetahui apa itu Alam Semesta.
2.      Untuk dapat mengetahui apa saja karakteristik dan tujuan dari Penciptaan Alam.
3.      Untuk dapat mengetahui Ayat-ayat apa saja yang mencakup tentang Penciptaan Alam.
4.      Untuk dapat mengetahui Hubungan Manusia dengan Alam Semesta itu seperti apa.

LATAR BELAKANG INTEGRASI INTERKONEKSI

1 komentar

Sentral Keilmuan Integrasi Interkoneksi

Latar belakang Integrasi Interkoneksi

1. Dikotomi pendidikan agama dan sains

-->
Sebuah kenyataan bahwa ada sebagian masyarakat, yang memahami secara kurang tepat hubungan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, di mana dipahami seakan ada jarak di antara keduanya yang tidak bisa di satukan dalam metode tertentu. Selanjutnya dipahami bahwa Agama hanya mengurusi wilayah-wilayah ketuhanan, kenabian, aqidah, fikih, tafsir, hadis dan semisalnya, yang pada gilirannya ilmu pengetahuan diletakan dalam bangunan lain di luar bangunan ilmu-ilmu Agama. Kemudian dimasukan ke dalamnya misalnya ilmu biologi, fisika, matematika, kedokteran dan sejenisnya. Hal inipun berlanjut dengan didukung pula kebijakan pendidikan pemerintah yang dikotomik. Kenyataan di atas mengusik Amin Abdullah, untuk meluruskan, membenahi, mendobrak pemahaman diatas melalui buku Islamic Studies; Pendekatan Integratif-Interkonektif sebagai upaya dekonstruksi atau merombak ulang untuk kemudian ditata kembali frame berpikir masyarakat dalam melihat agama dalam relasinya dengan ilmu pengetahuan.
-->
Ide dasarnya adalah, bahwa untuk memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, baik Agama, sosial, humaniora, kealaman dan sebagainya, tidaklah dibenarkan bersikap single entity. Masing-masing harus saling bertegur sapa antara satu sama lain. Kerjasama, saling membutuhkan, saling koreksi dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan dan memecahkan persoalan yang dihadapinya.
Sebab, ketika bangunan-bangunan keilmuan itu saling membelakangi,tidak ada tegur sapa dan komunikasi maka hasilnya adalah kemunduran, akan tercipta misalnya seorang ilmuwan yang tak berakhlak dan merusak atau seorang Kyai yang tidak tahu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya gampang dibodohi.
-->
Jargon integratif-interkonektif memang cukup populer di dengar terutama bagi kalangan civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ini tidak hanya sekedar jargon pasca peralihan IAIN menjadi UIN tetapi lebih dari itu menjadi core values dan paradigma yang akan dikembangkan UIN Sunan Kalijaga yang mengisyaratkan tidak ada lagi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Gagasan integrasi- interkoneksi ini muncul dari mantan rektor UIN Sunan Kalijaga Amin Abdullah yang kemudian mengaplikasikannya dalam pengembangan IAIN menjadi UIN.
Gagasan keilmuan yang integratif dan interkonektif ini muncul dari sebuah “kegelisahan” Amin Abdullah terkait dengan tantangan perkembangan zaman yang sedemikian pesatnya yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Teknologi yang semakin canggih sehingga tidak ada lagi sekat-sekat antarbangsa dan budaya, persoalan migrasi, revolusi IPTEK, genetika, pendidikan, hubungan antaragama, gender, HAM dan lain sebagainya. Perkembangan zaman mau tidak mau menuntut perubahan dalam segala bidang tanpa terkecuali pendidikan keislaman, karena tanda adanya respon yang cepat melihat perkembangan yang ada maka kaum Muslimin akan semakin jauh tertinggal dan hanya akan menjadi penonton, konsumen bahkan korban di tengah ketatnya persaingan global. Menghadapi tantangan era globlalilasi ini, umat Islam tidak hanya sekedar butuh untuk survive tetapi bagaimana bisa menjadi garda depan perubahan. Hal ini kemudian dibutuhkan reorientasi pemikiran dalam pendidikan Islam dan rekonstruksi sistem kelembagaan. 
-->
Jika selama ini terdapat sekat yang sangat tajam antara “ilmu” dan “agama” dimana keduanya seolah menjadi entitas yang berdiri sendiri dan tidak bisa dipertemukan, mempunyai wilayah sendiri baik dari segi objek- formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan hingga institusi penyelenggaranya. Tawaran paradigma integratif-interkoneksi berupaya mengurangi ketegangan-ketegangan tersebut tanpa meleburkan satu sama lain tetapi berusaha mendekatkan dan mengaitkannya sehingga menjadi “bertegur sapa” satu sama lain. 

2. Perilaku manusia tidak sebagaimana mestinya

Dunia saat ini sedang mengalami berbagai krisis, mulai dari krisis energi sampai krisis moral. Oleh banyak ahli, berbagai krisis yang melanda dunia ini ditengarai dikarenakan ummat manusia tidak berperilaku sebagaimana mestinya (benar dan baik). Kesalahan perilaku ummat manusia tersebut disinyalir oleh para ahli tersebut karena pola pendidikan yang dikembangkan saat ini kurang tepat.

3. Krisis Global

Saat ini juga marak dengan krisis global yang berdampak pada lingkungan dan energi dan bahkan moral. hal ini tentu patut di pikirkan bagaimana mengatasi ini semua agar tidak menjadi masalah yang berkepanjangan. dampak dari krisis global ini memang di sinyalir dari Dikotomi (pemisahan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum).

Mengatasi Krisis Global dengan Pendidikan terpadu

Solusi terhadap masalah dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum
telah banyak ditawarkan oleh beberapa ahli. Minimal ada tiga solusi terhadap masalah dikotomi tersebut, yaitu islamisasi sains, ilmuisasi islam, dan integrasi-interkoneksi.
Diharapkan dengan melakukan integrasi-interkoneksi ini krisis yang ada akan hilang ataupun berkurang.

Sumber :
  • Nurrochman M.KOM
  • M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Paradigma Integratif-Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 92-93



HUBUNGAN ISLAM DAN SAINS

0 komentar


Agama Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Kedua kitab suci yang ditinggalkan Rasulullah SAW menjamin manusia selalu pada jalan yang lurus sesuai petunjuk Allah dan Rasul. Siapa yang mampu bertahan di jalan Allah dan Rasulnya dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi semua laranganNya, maka pasti orang tersebut akan selamat bahkan memperoleh bahagia di dunia dan akhirat. Jika ia seorang ilmuwan (dosen atau guru) yang ikhlas mengamalkan ilmunya, pandai beramal shaleh(sedekah), dan senantiasa taqarrub kepada Allah (shalat tahajud, mengeluarkan zakat),maka tempatnya pasti diangkat derajatnya disisi Allah. Dengan bekal ketundukan yang sempurna kepada sang Pencipta, maka seorang pendidik atau pembelajar (guru) selayaknya membeikan kontribusi nyata untuk mewariskan segala kelebihan dan keistimewaan kepada generasi Muslim berikutnya. Tentunya, cara mewariskan ilmu pengetahuan kepada peserta didik atau peserta belajar (siswa) harus disesuaikan tuntutan zaman, dimana zaman yang akan dihadapi oleh generasi tersebut.Berkaitan dengan perbedaan zaman yang tengah dihadapi sang guru dengan murid,mengingatkan kita semua sebagai pendidik dan pembelajar bahwa ada dua dimensi yang akan diperoleh oleh peserta belajar. Pertama, dimensi jangka pendek di mana materi tertentu dapat diterapkan langsung oleh murid seperti; puasa, shalat, adab bersuci, tatakrama dengan semua pihak. Kedua, dimensi jangka panjang di mana materi diterima sebagai informasi dan akan diterapkan pada saat mereka mencapai umur sempurna (balig atau sudah kawin); seperti materi; haji, nikah, kepemimpinan dalam keluarga danmasyarakat. Karena itu, materi pembelajaran agama yang bersifat normatif dan prakatis yang akan diterapkan dalam beberapa tahun kemudian, para pendidik (pembelajar) menampilkan dengan strategi yang mengundang mereka berpikir jauh ke depan seperti; metode pemecahan masalah, dan studi kritis. Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita untuk  
senantiasa mengajarkan kepada generasi penerus materi jangka panjang yaitu materi kira-kira 20GB tahun kemudian baru mereka amalkan. Bagi kita sebagai pembelajar, maka penyesuaian materi sesuai tuntutan zaman yang akan dihadapi para murid menjadi pertimbangan utama sebab jika tidak ada penyesuaian dikhwatirkan materi sia-sia dan tidak manfaat sama sekali. Dalam hal ini peran guru sebagai pendesain materi pembelajaran yang memiliki visi jauh ke depan memiliki bobot nilai tertinggimanfaatnya bagi peserta belajar.

 
  • I.S.I.C. SUKA-KU © 2012 | Designed by Fandy Zelbestzer Aegelweard, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes